BAB II
Keutamaan fiqh di Jazirah Arab/ dinegara arab
Sementara itu, masyarakat di Jazirah Arab hidup dengan tenang, jauh dari bentuk keguncangan tersebut. Mereka tidak memiliki kemewahan dan peradaban Persia, yang memungkinkan mereka kreatif dan pandai menciptakan kemerosotankemerosotan, filsafat keserbabolehan dan kebejatan moral yang dikemas dalam bentuk agama. Mereka juga tidak memiliki kekuatan militer seperti Romawi, yang mendorong mereka melakukan ekspansi ke negara-negara tetangga. Mereka tidak memiliki filosofi dan dialektika Yunani, yang menjerat mereka menjadi bangsa mithos dan khurafat.
Karakteristik mereka seperti bahan baku yang belum diolah dengan bahan lain, masih menampakkan fitrah kemanusiaan dan kecenderungan yang sehat dan kuat, serta cenderung kepada kemanusiaan yang mulia, seperti setia, penolong, dermawan, dan sifat-sifat kesucian lainnya.
Jadi, kalau sebelumnya kita mengatakan bahwa Jazirah Arab yang dipilih sebagai tempat kelahiran Nabi Muhammad SAW dan pertumbuhan Islam karena masyarakat Arab pada waktu itu, masa Jahiliyyah, berada pada puncak kebejatan moral dan akhlaq, sekarang kita tahu bahwa itu tidaklah benar. Karena, kalaupun dikatakan bahwa Jazirah Arab ketika itu sangat marak akan perzinaan, misalnya, bentuk perzinaan tersebut tidak sebejat bentuk perzinaan yang telah dipraktekkan oleh bangsa Persia, misalnya, yang seorang ayah boleh menzinai anak perempuannya sendiri. Atau seorang anak laki-laki boleh menzinai saudara perempuannya, bahkan ibunya.
Dan kalaupun dikatakan bahwa di Jazirah Arab ketika itu banyak terjadi peperangan, perang yang mereka lakukan adalah demi menjaga kehormatan dan harga diri kabilahnya. Bukan untuk menjajah atau mengambil hak orang lain, sebagaimana peperangan yang dikibarkan oleh Romawi kepada bangsa-bangsa lain di sekitarnya.
Maka, kalau puncak kebobrokan moral dan akhlaq suatu bangsa dijadikan sebagai tolok ukur penetapan tempat kelahiran Rasulullah SAW dan agama yang dibawanya, Persia atau Romawi tentu lebih pantas untuk itu.
Jika telah kita ketahui kondisi bangsa Arab di Jazirah Arab sebelum Islam dan kondisi umat-umat lain di sekitarnya, dengan mudah kita dapat menjelaskan hikmah Ilahiyah yang telah menentukan Jazirah Arab sebagai tempat kelahiran Rasulullah SAW dan kerasulannya dan mengapa bangsa Arab ditunjuk sebagai generasi perintis yang membawa cahaya dakwah kepada dunia menuju Islam, yang memerintahkan seluruh manusia di dunia ini agar menyembah Allah semata. Jadi bukan seperti bangsa-bangsa lain yang, karena memiliki agama bathil dan peradaban palsu, sulit diluruskan dan diarahkan oleh sebab kebanggaan mereka terhadap kerusakan yang mereka lakukan dan anggapan mereka sebagai sesuatu yang benar. Sedangkan orang-orang yang masih hidup di masa pencarian, mereka tidak akan mengingkari kebodohan dan tidak akan membanggakan suatu peradaban dan kebudayaan karena tidak memilikinya. Jika Allah menghendaki terbitnya dakwah Islam ini dari suatu tempat, yaitu Persia, Romawi, atau India, niscaya untuk keberhasilan dakwah ini Allah SWT mempersiapkan berbagai sarana di negeri tersebut, sebagaimana Dia mempersiapkan sarana di Jazirah Arab. Dan Allah tidak akan pernah kesulitan untuk melakukannya, karena Dia Pencipta segala sesuatu, Pencipta segala sarana, termasuk sebab.
Tetapi hikmah pilihan ini sama dengan hikmah dijadikannya Rasululah SAW seorang ummi, tidak menulis dan tidak pula membaca, agar manusia tidak ragu terhadap kenabiannya, dan agar mereka tidak memiliki banyak sebab keraguan terhadap dakwahnya. Adalah termasuk kesempurnaan hikmah Ilahiyah jika bi'ah (lingkungan) tempat diutusnya Rasulullah dijadikan juga sebagai bi ah ummiyah (lingkungan yang ummi), bila dibandingkan dengan umat-umat lainnya yang ada di sekitarnya, yakni tidak terjangkau sama sekali oleh peradaban peradaban tetangganya.
Demikian pula sistem pemikirannya, tidak tersentuh sama sekali oleh filsafatfilsafat membingungkan yang ada di sekitarnya. Akan timbul keraguan di dada manusia apabila mereka melihat Nabi SAW pandai membaca dan menulis dan pandai bergaul dengan kitab-kitab, sejarah umat-umat terdahulu, dan semua peradaban negara-negara sekitamya.
Dan dikhawatirkan pula akan timbul keraguan di dada manusia manakala melihat munculnya dakwah Islamiyah di antara umat-umat yang memiliki peradaban budaya dan sejarah seperti Persia, Yunani, ataupun Romawi. Sebab orang yang ragu dan menolak mungkin akan menuduh dakwah Islam sebagai mata rantai pengalaman budaya dan pemikiran-pemikiran filosof yang akhirnya melahirkan peradaban yang unik dan perundang-undangan yang sempurna.
Al-Qur'an telah menjelaskan hikmah ini dengan ungkapan yang jelas dalam firman-Nya yang artinya, "Dialah yang mengutus kepada kaum yang ummi seorang rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mereka diajar akan kitab dan hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata." (QS AI-Jumu`ah: 2).
Allah telah menghendaki Rasul-Nya seorang yang ummi, dan kaum tempat Rasul diutus juga kaum yang secara umum ummi, agar mukjizat kenabian dan syari'at Islamiyah menjadi jelas dalam jalan pikiran, tidak ada penghamburan antara dakwah Islam dan dakwah-dakwah manusia yang bermacam-macam. Ini, sebagaimana tampak jelas, merupakan rahmat yang besar bagi hambaNya.
Ya, turunnya Islam di negeri Arab memang bukan kebetulan. Ada sekian banyak skenario samawi yang akhir-akhir ini mulai terkuak. Meski tandus, tidak ada pohon dan air, misalnya, negeri ini menyimpan banyak alasan untuk mendapatkan kehormatan itu. Beberapa di antaranya yang bisa kita gali adalah:
1. Rumah Ibadah Pertama
Pertama di Jazirah Arab terdapat rumah ibadah pertama. Tanah Syam (Palestina) merupakan negeri para nabi dan rasul. Hampir semua nabi yang pernah diutus ada di tanah itu. Sehingga hampir semua agama dilahirkan di tanah ini. Yahudi dan Nasrani adalah dua agama besar dalam sejarah manusia yang dilahirkan di negeri Syam.
Namun sesungguhnya rumah ibadah pertama di muka bumi justru tidak di Syam, melainkan di Jazirah Arab. Rumah Allah (Baitullah) dibangun pertama kali di tengah gurun pasir Jazirah Arab. Rumah ibadah pertama itu menurut riwayat dibangun jauh sebelum adanya peradaban manusia. Adalah para malaikat yang turun ke muka bumi atas izin Allah untuk membangunnya. Lalu mereka bertawaf di sekeliling Ka'bah itu sebagai upaya pertama menjadikan rumah itu sebagai pusat peribadatan umat manusia hingga hari Kiamat menjelang.
Ketika Adam AS diturunkan ke muka bumi, beliau diturunkan di negeri yang sekarang dikenal sebagai India. Sedangkan istrinya diturunkan di dekat Ka'bah. Lalu atas izin Allah keduanya dipertemukan di Jabal Rahmah, beberapa kilometer dari tempat dibangunnya Ka'bah. Maka jadilah wilayah sekitar Ka'bah itu sebagai tempat tinggal mereka dan Ka'bah sebagai tempat pusat peribadahan umat manusia. Dan di situlah seluruh umat manusia berasal dan di tempat itu pula manusia sejak dini sudah mengenal sebuah rumah ibadah.
Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT yang artinya, "Sesungguhnya rumah yang pertama dibangun untuk manusia beribadah adalah rumah yang di Bakkah (Makkah), yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi manusia. (QS Ali Imran: 96).
2. Posisi Strategis
Kedua, Jazirah Arab adalah wilayah yang memiliki posisi strategis. Bila kita cermati peta dunia, kita akan mendapati adanya banyak benua yang menjadi titik pusat peradaban manusia. Dan Jazirah Arab terletak di antara tiga benua besar yang sepanjang sejarah menjadi pusat peradaban manusia.
Sejak masa Rasulullah SAW, posisi Jazirah Arab adalah posisi yang strategis dan tepat berada di tengah-tengah berbagai pusat peradaban dunia. Bahkan di masa itu, bangsa Arab mengenal dua jenis mata uang sekaligus, yaitu dinar dan dirham. Dinar adalah jenis mata uang emas yang berlaku di Barat, yaitu Romawi dan Yunani, sedang dirham adalah mata uang perak yang dikenal di negeri Timur, seperti Persia. Dalam literatur fiqih Islam, baik dinar maupun dirham sama-sama diakui dan digunakan sebagai mata uang yang berlaku.
Ini menunjukkan, Jazirah Arab punya akses yang mudah, baik ke Barat maupun ke Timur. Bahkan juga ke Utara maupun ke Selatan, yaitu Syam di Utara dan Yaman di Selatan. Dengan demikian, ketika Muhammad SAW diangkat menjadi nabi dan diperintahkan menyampaikannya kepada seluruh umat manusia, beliau sangat terbantu dengan posisi Jazirah Arab, yang memang sangat strategis dan tepat berada pada pertemuan semua peradaban.
Coba bayangkan bila Islam diturunkan di wilayah-wilayah yang sangat jauh dari berbagai belahan dunia yang lain, seperti Kutub Utara, misalnya, yang sangat dingin itu. Tentu akan sangat lambat sekali dikenal di berbagai peradaban dunia. Juga tidak bisa kita bayangkan bila Islam diturunkan di daerah-daerah terpencil di Afrika, misalnya, atau di benuabenua lain yang jauh dari peradaban manusia. Tentu Islam hingga hari ini masih mengalami kendala dalam penyebaran.
Jazirah Arab memiliki akses jalan darat dan laut yang sama-sama bermanfaat yang membuat para dai Islam bisa menelusuri kedua jalur itu dengan mudah. Sehingga di abad pertama Hijriyyah sekalipun, Islam sudah masuk ke berbagai pusat peradaban dunia. Bahkan menurut Hamka, berdasarkan sumber-sumber sejarah non-Barat, di abad itu Islam sudah sampal ke negeri Nusantara ini.
3. Akhlaq Mulia
Ketiga, kesucian bangsa Arab. Stigma yang selama ini terbentuk di benak tiap orang adalah bahwa orang Arab di masa Rasulullah SAW itu Jahiliyyah. Keterbelakangan teknologi dan ilmu pengetahuan dianggap sebagai contoh untuk me njelaskan makna Jahili-yyah. Padahal yang dimaksud dengan Jahiliyyah sesungguhnya bukan ketertinggalan teknologi, juga bukan kesederhanaan kehidupan suatu bangsa. Jahiliyyah dalam pandangan Al-Qur'an adalah lawan dari Islam. Maka hukum Jahiliyyah adalah lawan dari hukum Islam. Semangat Jahiliyyah adalah lawan dari semangat Islam. Bangsa Arab saat itu memang sedikit terbelakang secara teknologi dibandingkan peradaban lainnya. Mereka hidup di gurun pasir yang masih murni dengan menghirup udara segar. Maka berbeda dengan moralitas bangsa lain yang sudah semakin terkotori oleh budaya kota, bangsa Arab hidup dengan kemurnian nilai kemanusiaan yang masih asli. Maka sifat jujur, amanah, saling menghormati, dan adil adalah ciri mendasar watak bangsa yang hidup dekat dengan alam ini. Sesuatu yang telah sulit didapat dari bangsa lain yang hidup di tengah hiruk pikuk kota.
Sebagai contoh mudah, bangsa Arab punya akhlaq mulia sebagai penerima tamu. Pelayanan kepada seorang tamu, yang meski belum dikenal, merupakan bagian dari harga diri seorang Arab sejati. Pantang bagi mereka menyia-nyiakan tamu yang datang. Kalau perlu semua persediaan makan yang mereka miliki pun diberikan kepada tamu. Pantang pula bagi bangsa Arab menolak permintaan orang yang kesusahan.
Ketika bangsa lain mengalami degradasi moral seperti minum khamar dan menyembah berhala, bangsa Arab hanyalah menjadi korban interaksi dengan mereka. Ya, 360 berhala yang ada di sekeiiling Ka'bah tidak lain karena pengaruh interaksi mereka dengan peradaban lain yang amat menggemari patung. Bahkan sebuah berhala yang paling besar, yaitu Hubal, tidak lain merupakan sebuah patung yang didatangkan oleh bangsa Arab dari peradaban luar. Maka budaya paganisme yang ada di Arab tidak lain hanyalah pengaruh buruk yang diterima sebagai imbas dari pergaulan mereka dengan budaya Romawi dan Yunani.
Sifat jujur, amanah, terbuka, dan menghormati sesama merupakan akhlaq dan watak dasar yang tidak bisa hilang begitu saja. Dan watak dasar seperti ini dibutuhkan untuk seorang dai, apalagi generasi dai pertama. Mereka tidak pernah merasa perlu untuk memutar balik ayat Allah, sebagaimana Yahudi dan Nasrani melakukannya. Sebab mereka punya nurani yang sangat bersih dari noda kotor. Yang mereka lakukan adalah taat, tunduk, dan patuh kepada apa yang Allah perintahkan.
Begitu cahaya iman masuk ke dalam dada yang masih bersih dan suci, sinar itu membentuk proyeksi iman dan amal yang luar biasa. Berbeda dengan bani Israil, yang dadanya sesak dengan noda Jahiliyyah, sehingga ayat-ayat yang turun selalu mereka tolak dan para nabi yang diutus selalu mereka dustai. Bangsa Arab tidak melakukan hal itu saat iman sudah masuk ke dalam dada. Hanya bangsa yang hatinya masih bersih yang mampu menjadi tiang pancang peradaban manusia dan titik tolak penyebar agama terakhir ke seluruh penjuru dunia.
4. Bahasa Terkaya
Keempat, faktor bahasa. Sudah menjadi ketetapan Allah SWT untuk mengirim nabi dengan bahasa umatnya, agar tidak terjadi kesalahan dalam komunikasi antara nabi dan umatnya. Namun ketika semua nabi telah terutus untuk masing-masing umat manusia, Allah menetapkan adanya nabi terakhir yang diutus untuk seluruh umat manusia. Dan kelebihannya adalah bahwa risalah yang dibawa nabi tersebut akan tetap abadi hingga selesainya kehidupan di muka bumi ini.
Untuk itu diperlukan sebuah bahasa khusus yang bisa menampung informasi risalah secara abadi. Sebab para pengamat sejarah bahasa sepakat bahwa tiap bahasa itu punya masa keberadaan yang terbatas. Lewat dari masanya, bahasa itu akan tidak lagi dikenal orang atau bahkan hilang dari sejarah sama sekali.
Tidak usah jauh-jauh untuk memahami hal ini. Perhatikan saja bahasa kita, bahasa Indonesia. Coba Anda bandingkan bahasa Indonesia yang sekarang kita gunakan dan yang kita baca dalam berbagai tulisan di buku-buku maupun media yang lain saat ini dengan bahasa Indonesia atau bahasa Melayu lima puluh tahun yang lalu, apalagi seratus tahun yang lalu. Berbeda sekali. Bisa dibayangkan bagaimana bahasa Indonesia beberapa ratus tahun yang lalu. Pasti sangat sulit kita pahami meskipun tentu masih ada bagian-bagian yang bisa kita mengerti.
Maka harus ada sebuah bahasa yang bersifat abadi dan tetap digunakan oleh sejumlah besar umat manusia sepanjang masa. Bahasa itu ternyata menurut pakar bahasa adalah bahasa Arab, sebagai satu-satunya bahasa yang pernah ada di muka bumi yang sudah berusia ribuan tahun dan hingga hari ini masih digunakan oleh sejumlah besar umat manusia.
Bukan hanya digunakan, tetapi maknanya juga tetap sama. Cobalah Anda perhatikan, AI-Qur'an yang diturunkan lebih dari 14 abad yang lalu, maknanya secara umum dan segi bahasa tetap dapat dipahami oleh orang yang mengerti bahasa Arab di masa sekarang sebagaimana ia dimengerti oleh orang-orang di masa lalu hingga orang-orang yang hidup di masa awal Islam. Tentu saja untuk memahami makna yang sebenarnya ayat-ayat Al-Qur'an tidak mudah, dibutuhkan berbagai ilmu untuk itu. Namun ini tak terkait dengan masa. Orang-orang sekarang maupun orang-orang di masa lalu membutuhkan banyak bekal ilmu untuk bisa memahami makna ayat-ayat AI-Qur'an dengan benar, tidak cukup hanya ilmu bahasa Arab. Tetapi, sekali lagi, itu tidak terkait dengan waktu.
Itulah rahasia mengapa Islam diturunkan di Arab dengan seorang nabi yang berbicara dalam bahasa Arab. Sejak zaman Nabi Ibrahim AS bahasa itu sudah digunakan. Bahkan sebagian ulama berpendapat bahwa bahasa Arab adalah bahasa umat manusia yang pertama.
Sebagai bahasa yang tertua di dunia, wajarlah bila bahasa Arab memiliki jumlah kosakata yang paling besar. Para ahli bahasa pernah mengadakan penelitian yang menyebutkan bahwa bahasa Arab memiliki sinonim yang paling banyak dalam penyebutan nama-nama benda. Misalnya untuk seekor unta, orang Arab punya sekitar 800 kata yang identik dengan unta. Untuk kata yang identik dengan anjing, ada sekitar 100 kata. Maka tak ada satu pun bahasa di dunia ini yang bisa menyamai bahasa'Arab dalam hal kekayaan perbendaharaannya. Dan dengan bahasa yang lengkap dan abadi itu pulalah agama Islam disampaikan dan Al-Qur'an diturunkan.
5. Tanpa Kemajuan Materiil
Kelima, Arab adalah negeri tanpa kemajuan materiil sebelumnya. Seandainya sebelum turunnya Nabi Muhammad SAW bangsa Arab sudah maju dari sisi peradaban materi, bisa jadi orang akan menganggap bahwa Islam hanyalah berfungsi pada sisi moral. Orang akan beranggapan bahwa peradaban Islam hanya peradaban spiritualis, yang hanya mengacu pada sisi ruhaniyah seseorang.
Islam diturunkan di Jazirah Arab, yang tidak punya peradaban materi, lalu tiba-tiba berhasil membangun peradaban materi di seluruh dunia, maka tahulah orang-orang bahwa Islam itu bukanlah ajaran yang bersifat parsial, yang sepotong-sepotong belaka. Mereka yakin bahwa Islam adalah sebuah ajaran yang multidimensi. Ajaran Islam mengandung masalah materi dan ruhani.
Ketika sisi aqidah dan fikrah (pemikiran) bangsa Arab sudah tertanam dengan Islam, ajaran Islam kemudian mengajak mereka membangun peradaban materi yang menakjubkan dalam catatan sejarah manusia. Pusat-pusat peradaban dibangun bangsa-bangsa yang masuk Islam dan menjadikan peradaban mereka semakin maju.
Logikanya, bila di tanah gersang padang pasir itu bisa dibangun peradaban besar dengan berbekal ajaran Islam, tentu membangun peradaban yang sudah ada bukan hal sulit. Karena itulah, di negeri-negeri Islam yang peradaban sebelumnya sudah maju, seperti Mesir, Persia, dan India, kehadiran Islam semakin memajukan peradaban mereka. Mengapa? Karena, Islam tetap mempertahankan milik mereka yang baik dan hanya menghapuskan yang tidak baik.
Sama seperti yang terjadi di Jazirah Arab. Yang dihapus adalah hal-hal yang buruk saja, seperti aqidah yang salah dan kebiasaan-kebiasaan yang keliru. Sedangkan sifat-sifat mereka yang baik, seperti setia, jujur, amanah, saling menghormati, memuliakan tamu, dan sebagainya, tetap dipelihara, bahkan diperkuat.
Daftar pustaka
sumber: http://www.radiodakwahmustofa.com
Keutamaan fiqh di Jazirah Arab/ dinegara arab
Sementara itu, masyarakat di Jazirah Arab hidup dengan tenang, jauh dari bentuk keguncangan tersebut. Mereka tidak memiliki kemewahan dan peradaban Persia, yang memungkinkan mereka kreatif dan pandai menciptakan kemerosotankemerosotan, filsafat keserbabolehan dan kebejatan moral yang dikemas dalam bentuk agama. Mereka juga tidak memiliki kekuatan militer seperti Romawi, yang mendorong mereka melakukan ekspansi ke negara-negara tetangga. Mereka tidak memiliki filosofi dan dialektika Yunani, yang menjerat mereka menjadi bangsa mithos dan khurafat.
Karakteristik mereka seperti bahan baku yang belum diolah dengan bahan lain, masih menampakkan fitrah kemanusiaan dan kecenderungan yang sehat dan kuat, serta cenderung kepada kemanusiaan yang mulia, seperti setia, penolong, dermawan, dan sifat-sifat kesucian lainnya.
Jadi, kalau sebelumnya kita mengatakan bahwa Jazirah Arab yang dipilih sebagai tempat kelahiran Nabi Muhammad SAW dan pertumbuhan Islam karena masyarakat Arab pada waktu itu, masa Jahiliyyah, berada pada puncak kebejatan moral dan akhlaq, sekarang kita tahu bahwa itu tidaklah benar. Karena, kalaupun dikatakan bahwa Jazirah Arab ketika itu sangat marak akan perzinaan, misalnya, bentuk perzinaan tersebut tidak sebejat bentuk perzinaan yang telah dipraktekkan oleh bangsa Persia, misalnya, yang seorang ayah boleh menzinai anak perempuannya sendiri. Atau seorang anak laki-laki boleh menzinai saudara perempuannya, bahkan ibunya.
Dan kalaupun dikatakan bahwa di Jazirah Arab ketika itu banyak terjadi peperangan, perang yang mereka lakukan adalah demi menjaga kehormatan dan harga diri kabilahnya. Bukan untuk menjajah atau mengambil hak orang lain, sebagaimana peperangan yang dikibarkan oleh Romawi kepada bangsa-bangsa lain di sekitarnya.
Maka, kalau puncak kebobrokan moral dan akhlaq suatu bangsa dijadikan sebagai tolok ukur penetapan tempat kelahiran Rasulullah SAW dan agama yang dibawanya, Persia atau Romawi tentu lebih pantas untuk itu.
Jika telah kita ketahui kondisi bangsa Arab di Jazirah Arab sebelum Islam dan kondisi umat-umat lain di sekitarnya, dengan mudah kita dapat menjelaskan hikmah Ilahiyah yang telah menentukan Jazirah Arab sebagai tempat kelahiran Rasulullah SAW dan kerasulannya dan mengapa bangsa Arab ditunjuk sebagai generasi perintis yang membawa cahaya dakwah kepada dunia menuju Islam, yang memerintahkan seluruh manusia di dunia ini agar menyembah Allah semata. Jadi bukan seperti bangsa-bangsa lain yang, karena memiliki agama bathil dan peradaban palsu, sulit diluruskan dan diarahkan oleh sebab kebanggaan mereka terhadap kerusakan yang mereka lakukan dan anggapan mereka sebagai sesuatu yang benar. Sedangkan orang-orang yang masih hidup di masa pencarian, mereka tidak akan mengingkari kebodohan dan tidak akan membanggakan suatu peradaban dan kebudayaan karena tidak memilikinya. Jika Allah menghendaki terbitnya dakwah Islam ini dari suatu tempat, yaitu Persia, Romawi, atau India, niscaya untuk keberhasilan dakwah ini Allah SWT mempersiapkan berbagai sarana di negeri tersebut, sebagaimana Dia mempersiapkan sarana di Jazirah Arab. Dan Allah tidak akan pernah kesulitan untuk melakukannya, karena Dia Pencipta segala sesuatu, Pencipta segala sarana, termasuk sebab.
Tetapi hikmah pilihan ini sama dengan hikmah dijadikannya Rasululah SAW seorang ummi, tidak menulis dan tidak pula membaca, agar manusia tidak ragu terhadap kenabiannya, dan agar mereka tidak memiliki banyak sebab keraguan terhadap dakwahnya. Adalah termasuk kesempurnaan hikmah Ilahiyah jika bi'ah (lingkungan) tempat diutusnya Rasulullah dijadikan juga sebagai bi ah ummiyah (lingkungan yang ummi), bila dibandingkan dengan umat-umat lainnya yang ada di sekitarnya, yakni tidak terjangkau sama sekali oleh peradaban peradaban tetangganya.
Demikian pula sistem pemikirannya, tidak tersentuh sama sekali oleh filsafatfilsafat membingungkan yang ada di sekitarnya. Akan timbul keraguan di dada manusia apabila mereka melihat Nabi SAW pandai membaca dan menulis dan pandai bergaul dengan kitab-kitab, sejarah umat-umat terdahulu, dan semua peradaban negara-negara sekitamya.
Dan dikhawatirkan pula akan timbul keraguan di dada manusia manakala melihat munculnya dakwah Islamiyah di antara umat-umat yang memiliki peradaban budaya dan sejarah seperti Persia, Yunani, ataupun Romawi. Sebab orang yang ragu dan menolak mungkin akan menuduh dakwah Islam sebagai mata rantai pengalaman budaya dan pemikiran-pemikiran filosof yang akhirnya melahirkan peradaban yang unik dan perundang-undangan yang sempurna.
Al-Qur'an telah menjelaskan hikmah ini dengan ungkapan yang jelas dalam firman-Nya yang artinya, "Dialah yang mengutus kepada kaum yang ummi seorang rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mereka diajar akan kitab dan hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata." (QS AI-Jumu`ah: 2).
Allah telah menghendaki Rasul-Nya seorang yang ummi, dan kaum tempat Rasul diutus juga kaum yang secara umum ummi, agar mukjizat kenabian dan syari'at Islamiyah menjadi jelas dalam jalan pikiran, tidak ada penghamburan antara dakwah Islam dan dakwah-dakwah manusia yang bermacam-macam. Ini, sebagaimana tampak jelas, merupakan rahmat yang besar bagi hambaNya.
Ya, turunnya Islam di negeri Arab memang bukan kebetulan. Ada sekian banyak skenario samawi yang akhir-akhir ini mulai terkuak. Meski tandus, tidak ada pohon dan air, misalnya, negeri ini menyimpan banyak alasan untuk mendapatkan kehormatan itu. Beberapa di antaranya yang bisa kita gali adalah:
1. Rumah Ibadah Pertama
Pertama di Jazirah Arab terdapat rumah ibadah pertama. Tanah Syam (Palestina) merupakan negeri para nabi dan rasul. Hampir semua nabi yang pernah diutus ada di tanah itu. Sehingga hampir semua agama dilahirkan di tanah ini. Yahudi dan Nasrani adalah dua agama besar dalam sejarah manusia yang dilahirkan di negeri Syam.
Namun sesungguhnya rumah ibadah pertama di muka bumi justru tidak di Syam, melainkan di Jazirah Arab. Rumah Allah (Baitullah) dibangun pertama kali di tengah gurun pasir Jazirah Arab. Rumah ibadah pertama itu menurut riwayat dibangun jauh sebelum adanya peradaban manusia. Adalah para malaikat yang turun ke muka bumi atas izin Allah untuk membangunnya. Lalu mereka bertawaf di sekeliling Ka'bah itu sebagai upaya pertama menjadikan rumah itu sebagai pusat peribadatan umat manusia hingga hari Kiamat menjelang.
Ketika Adam AS diturunkan ke muka bumi, beliau diturunkan di negeri yang sekarang dikenal sebagai India. Sedangkan istrinya diturunkan di dekat Ka'bah. Lalu atas izin Allah keduanya dipertemukan di Jabal Rahmah, beberapa kilometer dari tempat dibangunnya Ka'bah. Maka jadilah wilayah sekitar Ka'bah itu sebagai tempat tinggal mereka dan Ka'bah sebagai tempat pusat peribadahan umat manusia. Dan di situlah seluruh umat manusia berasal dan di tempat itu pula manusia sejak dini sudah mengenal sebuah rumah ibadah.
Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT yang artinya, "Sesungguhnya rumah yang pertama dibangun untuk manusia beribadah adalah rumah yang di Bakkah (Makkah), yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi manusia. (QS Ali Imran: 96).
2. Posisi Strategis
Kedua, Jazirah Arab adalah wilayah yang memiliki posisi strategis. Bila kita cermati peta dunia, kita akan mendapati adanya banyak benua yang menjadi titik pusat peradaban manusia. Dan Jazirah Arab terletak di antara tiga benua besar yang sepanjang sejarah menjadi pusat peradaban manusia.
Sejak masa Rasulullah SAW, posisi Jazirah Arab adalah posisi yang strategis dan tepat berada di tengah-tengah berbagai pusat peradaban dunia. Bahkan di masa itu, bangsa Arab mengenal dua jenis mata uang sekaligus, yaitu dinar dan dirham. Dinar adalah jenis mata uang emas yang berlaku di Barat, yaitu Romawi dan Yunani, sedang dirham adalah mata uang perak yang dikenal di negeri Timur, seperti Persia. Dalam literatur fiqih Islam, baik dinar maupun dirham sama-sama diakui dan digunakan sebagai mata uang yang berlaku.
Ini menunjukkan, Jazirah Arab punya akses yang mudah, baik ke Barat maupun ke Timur. Bahkan juga ke Utara maupun ke Selatan, yaitu Syam di Utara dan Yaman di Selatan. Dengan demikian, ketika Muhammad SAW diangkat menjadi nabi dan diperintahkan menyampaikannya kepada seluruh umat manusia, beliau sangat terbantu dengan posisi Jazirah Arab, yang memang sangat strategis dan tepat berada pada pertemuan semua peradaban.
Coba bayangkan bila Islam diturunkan di wilayah-wilayah yang sangat jauh dari berbagai belahan dunia yang lain, seperti Kutub Utara, misalnya, yang sangat dingin itu. Tentu akan sangat lambat sekali dikenal di berbagai peradaban dunia. Juga tidak bisa kita bayangkan bila Islam diturunkan di daerah-daerah terpencil di Afrika, misalnya, atau di benuabenua lain yang jauh dari peradaban manusia. Tentu Islam hingga hari ini masih mengalami kendala dalam penyebaran.
Jazirah Arab memiliki akses jalan darat dan laut yang sama-sama bermanfaat yang membuat para dai Islam bisa menelusuri kedua jalur itu dengan mudah. Sehingga di abad pertama Hijriyyah sekalipun, Islam sudah masuk ke berbagai pusat peradaban dunia. Bahkan menurut Hamka, berdasarkan sumber-sumber sejarah non-Barat, di abad itu Islam sudah sampal ke negeri Nusantara ini.
3. Akhlaq Mulia
Ketiga, kesucian bangsa Arab. Stigma yang selama ini terbentuk di benak tiap orang adalah bahwa orang Arab di masa Rasulullah SAW itu Jahiliyyah. Keterbelakangan teknologi dan ilmu pengetahuan dianggap sebagai contoh untuk me njelaskan makna Jahili-yyah. Padahal yang dimaksud dengan Jahiliyyah sesungguhnya bukan ketertinggalan teknologi, juga bukan kesederhanaan kehidupan suatu bangsa. Jahiliyyah dalam pandangan Al-Qur'an adalah lawan dari Islam. Maka hukum Jahiliyyah adalah lawan dari hukum Islam. Semangat Jahiliyyah adalah lawan dari semangat Islam. Bangsa Arab saat itu memang sedikit terbelakang secara teknologi dibandingkan peradaban lainnya. Mereka hidup di gurun pasir yang masih murni dengan menghirup udara segar. Maka berbeda dengan moralitas bangsa lain yang sudah semakin terkotori oleh budaya kota, bangsa Arab hidup dengan kemurnian nilai kemanusiaan yang masih asli. Maka sifat jujur, amanah, saling menghormati, dan adil adalah ciri mendasar watak bangsa yang hidup dekat dengan alam ini. Sesuatu yang telah sulit didapat dari bangsa lain yang hidup di tengah hiruk pikuk kota.
Sebagai contoh mudah, bangsa Arab punya akhlaq mulia sebagai penerima tamu. Pelayanan kepada seorang tamu, yang meski belum dikenal, merupakan bagian dari harga diri seorang Arab sejati. Pantang bagi mereka menyia-nyiakan tamu yang datang. Kalau perlu semua persediaan makan yang mereka miliki pun diberikan kepada tamu. Pantang pula bagi bangsa Arab menolak permintaan orang yang kesusahan.
Ketika bangsa lain mengalami degradasi moral seperti minum khamar dan menyembah berhala, bangsa Arab hanyalah menjadi korban interaksi dengan mereka. Ya, 360 berhala yang ada di sekeiiling Ka'bah tidak lain karena pengaruh interaksi mereka dengan peradaban lain yang amat menggemari patung. Bahkan sebuah berhala yang paling besar, yaitu Hubal, tidak lain merupakan sebuah patung yang didatangkan oleh bangsa Arab dari peradaban luar. Maka budaya paganisme yang ada di Arab tidak lain hanyalah pengaruh buruk yang diterima sebagai imbas dari pergaulan mereka dengan budaya Romawi dan Yunani.
Sifat jujur, amanah, terbuka, dan menghormati sesama merupakan akhlaq dan watak dasar yang tidak bisa hilang begitu saja. Dan watak dasar seperti ini dibutuhkan untuk seorang dai, apalagi generasi dai pertama. Mereka tidak pernah merasa perlu untuk memutar balik ayat Allah, sebagaimana Yahudi dan Nasrani melakukannya. Sebab mereka punya nurani yang sangat bersih dari noda kotor. Yang mereka lakukan adalah taat, tunduk, dan patuh kepada apa yang Allah perintahkan.
Begitu cahaya iman masuk ke dalam dada yang masih bersih dan suci, sinar itu membentuk proyeksi iman dan amal yang luar biasa. Berbeda dengan bani Israil, yang dadanya sesak dengan noda Jahiliyyah, sehingga ayat-ayat yang turun selalu mereka tolak dan para nabi yang diutus selalu mereka dustai. Bangsa Arab tidak melakukan hal itu saat iman sudah masuk ke dalam dada. Hanya bangsa yang hatinya masih bersih yang mampu menjadi tiang pancang peradaban manusia dan titik tolak penyebar agama terakhir ke seluruh penjuru dunia.
4. Bahasa Terkaya
Keempat, faktor bahasa. Sudah menjadi ketetapan Allah SWT untuk mengirim nabi dengan bahasa umatnya, agar tidak terjadi kesalahan dalam komunikasi antara nabi dan umatnya. Namun ketika semua nabi telah terutus untuk masing-masing umat manusia, Allah menetapkan adanya nabi terakhir yang diutus untuk seluruh umat manusia. Dan kelebihannya adalah bahwa risalah yang dibawa nabi tersebut akan tetap abadi hingga selesainya kehidupan di muka bumi ini.
Untuk itu diperlukan sebuah bahasa khusus yang bisa menampung informasi risalah secara abadi. Sebab para pengamat sejarah bahasa sepakat bahwa tiap bahasa itu punya masa keberadaan yang terbatas. Lewat dari masanya, bahasa itu akan tidak lagi dikenal orang atau bahkan hilang dari sejarah sama sekali.
Tidak usah jauh-jauh untuk memahami hal ini. Perhatikan saja bahasa kita, bahasa Indonesia. Coba Anda bandingkan bahasa Indonesia yang sekarang kita gunakan dan yang kita baca dalam berbagai tulisan di buku-buku maupun media yang lain saat ini dengan bahasa Indonesia atau bahasa Melayu lima puluh tahun yang lalu, apalagi seratus tahun yang lalu. Berbeda sekali. Bisa dibayangkan bagaimana bahasa Indonesia beberapa ratus tahun yang lalu. Pasti sangat sulit kita pahami meskipun tentu masih ada bagian-bagian yang bisa kita mengerti.
Maka harus ada sebuah bahasa yang bersifat abadi dan tetap digunakan oleh sejumlah besar umat manusia sepanjang masa. Bahasa itu ternyata menurut pakar bahasa adalah bahasa Arab, sebagai satu-satunya bahasa yang pernah ada di muka bumi yang sudah berusia ribuan tahun dan hingga hari ini masih digunakan oleh sejumlah besar umat manusia.
Bukan hanya digunakan, tetapi maknanya juga tetap sama. Cobalah Anda perhatikan, AI-Qur'an yang diturunkan lebih dari 14 abad yang lalu, maknanya secara umum dan segi bahasa tetap dapat dipahami oleh orang yang mengerti bahasa Arab di masa sekarang sebagaimana ia dimengerti oleh orang-orang di masa lalu hingga orang-orang yang hidup di masa awal Islam. Tentu saja untuk memahami makna yang sebenarnya ayat-ayat Al-Qur'an tidak mudah, dibutuhkan berbagai ilmu untuk itu. Namun ini tak terkait dengan masa. Orang-orang sekarang maupun orang-orang di masa lalu membutuhkan banyak bekal ilmu untuk bisa memahami makna ayat-ayat AI-Qur'an dengan benar, tidak cukup hanya ilmu bahasa Arab. Tetapi, sekali lagi, itu tidak terkait dengan waktu.
Itulah rahasia mengapa Islam diturunkan di Arab dengan seorang nabi yang berbicara dalam bahasa Arab. Sejak zaman Nabi Ibrahim AS bahasa itu sudah digunakan. Bahkan sebagian ulama berpendapat bahwa bahasa Arab adalah bahasa umat manusia yang pertama.
Sebagai bahasa yang tertua di dunia, wajarlah bila bahasa Arab memiliki jumlah kosakata yang paling besar. Para ahli bahasa pernah mengadakan penelitian yang menyebutkan bahwa bahasa Arab memiliki sinonim yang paling banyak dalam penyebutan nama-nama benda. Misalnya untuk seekor unta, orang Arab punya sekitar 800 kata yang identik dengan unta. Untuk kata yang identik dengan anjing, ada sekitar 100 kata. Maka tak ada satu pun bahasa di dunia ini yang bisa menyamai bahasa'Arab dalam hal kekayaan perbendaharaannya. Dan dengan bahasa yang lengkap dan abadi itu pulalah agama Islam disampaikan dan Al-Qur'an diturunkan.
5. Tanpa Kemajuan Materiil
Kelima, Arab adalah negeri tanpa kemajuan materiil sebelumnya. Seandainya sebelum turunnya Nabi Muhammad SAW bangsa Arab sudah maju dari sisi peradaban materi, bisa jadi orang akan menganggap bahwa Islam hanyalah berfungsi pada sisi moral. Orang akan beranggapan bahwa peradaban Islam hanya peradaban spiritualis, yang hanya mengacu pada sisi ruhaniyah seseorang.
Islam diturunkan di Jazirah Arab, yang tidak punya peradaban materi, lalu tiba-tiba berhasil membangun peradaban materi di seluruh dunia, maka tahulah orang-orang bahwa Islam itu bukanlah ajaran yang bersifat parsial, yang sepotong-sepotong belaka. Mereka yakin bahwa Islam adalah sebuah ajaran yang multidimensi. Ajaran Islam mengandung masalah materi dan ruhani.
Ketika sisi aqidah dan fikrah (pemikiran) bangsa Arab sudah tertanam dengan Islam, ajaran Islam kemudian mengajak mereka membangun peradaban materi yang menakjubkan dalam catatan sejarah manusia. Pusat-pusat peradaban dibangun bangsa-bangsa yang masuk Islam dan menjadikan peradaban mereka semakin maju.
Logikanya, bila di tanah gersang padang pasir itu bisa dibangun peradaban besar dengan berbekal ajaran Islam, tentu membangun peradaban yang sudah ada bukan hal sulit. Karena itulah, di negeri-negeri Islam yang peradaban sebelumnya sudah maju, seperti Mesir, Persia, dan India, kehadiran Islam semakin memajukan peradaban mereka. Mengapa? Karena, Islam tetap mempertahankan milik mereka yang baik dan hanya menghapuskan yang tidak baik.
Sama seperti yang terjadi di Jazirah Arab. Yang dihapus adalah hal-hal yang buruk saja, seperti aqidah yang salah dan kebiasaan-kebiasaan yang keliru. Sedangkan sifat-sifat mereka yang baik, seperti setia, jujur, amanah, saling menghormati, memuliakan tamu, dan sebagainya, tetap dipelihara, bahkan diperkuat.
Daftar pustaka
sumber: http://www.radiodakwahmustofa.com


0 Comments